Bilangan Fu : Berpikir Adil, Bertindak Strategis



Diterbitkan oleh KPG lebih dari sepuluh tahun yang lalu, novel bertema besar spiritualisme kritis sebagaimana disebutkan Ayu Utami, penulisnya, memuat kritik terhadap tiga idealisme yang dekat dengan sistem kehidupan masyarakat Indonesia saat ini : modernisme, monoteisme, dan militerisme. Adalah tiga sahabat dengan kekerabatan unik yang coba membawakan spiritualisme kritis dalam dialog mereka yang penuh rona kemewahan kaum terpelajar, serta dalam interaksi mereka dengan masyarakat sekitar yang menjadi latar sebagian besar bagian novel, sebuah wilayah perbukitan di selatan Jawa bernama Sewugunung. Mereka adalah Sandi Yuda, Marja dan Parang Jati. Bilangan Fu menggambarkan kemanusiaan dalam kacamata makro maupun mikro. Membahas di lingkup sistem besar dalam masyarakat hingga lingkup individu yang paling samar, lapisan terdalam manusia.

Modernisme identik dengan pengagungan rasio yang muncul sejak segala yang ilmiah mulai menjadi besar di wilayah Eropa seputar awal abad ke-16, kemudian menjadi ‘pemenang’ peradaban yang sebelumnya dikuasai secara parsial dan otonom oleh dinasti-dinasti besar dan sistem kesukuan. Sejak itu muncul berbagai penemuan, inovasi, dan teknologi yang mengubah sekaligus ‘menyatukan’ dunia dan semakin mengukuhkan spesies manusia sebagai penguasa atas spesies lain di muka bumi. Dalam kalimat lain, memiiki kuasa menghancurkan.

Monoteisme dalam praktiknya disebut menggeser kekaguman terhadap kekuatan adimanusia menjadi ketakutan. Manusia adalah makhluk lemah namun suka berkuasa. Penjelmaan kuasa menjelma sekadar perintah dan larangan, tidak ada kedalaman. Merunut sejarahnya, monoteisme mensyaratkan dan melanggengkan misionarisme atau penyebaran. Kuantitas menjadi utama dengan atau tanpa kedalaman, sementara monoteisme meski sering bertentangan dengan modernisme, ternyata dapat pula ‘bersekongkol’ menjadikan kisah-kisah masa lalu yang tidak relevan dengan hukum keduanya menjadi kisah banal yang kasar. Roh, hantu, atau arwah menjelma sosok-sosok seram tergambar dengan tabiat negatif.  

Militerisme menggambarkan kekuasaan formal, sistem yang menegakkan hukum. Hukum merupakan produk budaya, bersifat mengikat dan perlu ditegakkan. Hukum merupakan konstruksi sosial yang oleh sebagian diantara pemegang kuasa keadaan ini dimanfaatkan secara manipulatif demi keuntungan pribadi. Penegakan hukum direpetisi dalam masyarakat salah satunya melalui militerisme. Dimanipulasi atau dimanfaatkan oleh sebagian kecil yang menikmati kekuasaan.

Konsekuensi dari  perpaduan ketiga ide yang menjadi praktik bermasyarakat tersebut salah satunya adalah munculnya kalangan medioker, ‘pemuja’ diri sendiri. Kalangan yang tidak memiliki kedalaman makna akan segala hal yang dialami dan dilihatnya, kalangan yang memaknai diri sendiripun gagal, kalangan yang tidak pernah memberi jarak dengan fenomena sehingga tidak mempertimbangkan ulang segala sesuatu yang terjadi selain dari perspektif yang dipercayainya saja.

Salah satu cara pandang terhadap dongeng atau mitologi yang menarik bagi saya dalam buku ini adalah kisah ikan pelus. Sewugunung merupakan wilayah tempat lahir dan tinggal Parangjati. Parangjati lahir atau dalam kaca mata modern ‘ditemukan’ di mata air ke-13 di desa sekitar Watugunung, satu-satunya gunung batu di antara pegunungan kapur di Sewugunung yang sedang dibuka  jalur pemanjatannya oleh Sandi Yuda dan teman-temannya, gerombolan pemanjat tebing dari kota. Parangjati ditemukan seorang perempuan tetua desa berpengaruh bernama Mbok Manyar, yang dideskripsikan tidak bersekolah namun memperoleh ilmu dari tapa alam sehingga bahasa komunikasinya adalah bahasa alam yang sulit dipahami warga sekitar. Mbok Manyar kemudian meminta Suhubudi memelihara Parangjati. Tak kalah berpengaruh, Suhubudi juga tokoh kebudayaan setempat yang memelihara banyak kisah dari masa lalu, salah satu yang memahami bahasa alam Mbok Manyar dan pemilik padepokan termahsyur. Ikan pelus dikisahkan sebagai makhluk mitologi dari masa lalu, spesies yang endemik, dipercaya menjaga seluruh sendang di Watugunung yang berjumlah 13. Ikan pelus membawa kisah-kisah leluhur Watugunung dan hidup di dasar mata air yang tak pernah surut meski di musim paling kering, yakni sendang ke-13 tempat Parangjati ditemukan. Ikan Pelus saja yang tersisa dari leluhur dari masa yang jauh, sebab setelah manusia begitu berkuasa di daratan, mereka tak menyisakan spesies apapun yang mengancam eksistensi wilayahnya atau melakukan penakhlukkan, sementara perairan permukaan perlahan terjangkau pula oleh kuasa mereka. Namun kedalaman air adalah yang paling akhir dan masih belum mampu dikuasai mereka. Begitulah, ikan pelus masih dipercaya berada di dasar mata air sendang ketigabelas, menjadi penjaga wilayah dan kisah-kisah leluhur.

Dalam diri Parangjati kemudian mewujud nilai-nilai yang kental mewarnai cerita, feminisme dan spiritualisme kritis. Dialog Parangjati dan Sandi Yuda serta sesekali dengan Marja paling banyak memuat pemetaan relasi kuasa : antar manusia, antara manusia dengan sistem atau kekuasaan, hingga antara manusia dengan alam. Membaca bagian-bagian ini seperti merefleksikan diri saya sebagai Sandi Yuda yang penuh pretensi, skeptis dan seringkali ignoran sedang menyimak khotbah Parangjati. Seperti seorang nabi yang menyampaikan wahyu dengan lembut, metodenya dialogis sehingga setara secara relasi kuasa. Saya seperti tidak sedang membaca cerita fiksi. Saya seperti sedang belajar tumbuh perlahan, ini membuat saya cukup yakin bahwa Bilangan Fu merupakan salah satu fiksi yang bisa memberi kesan dan makna berbeda ketika kita memberi jeda untuk membacanya kembali suatu hari. Masa di mana semoga kita sudah lebih bertumbuh dari sebelumnya, jenis bacaan favorit saya. Mengenai dialog Jati dan Yuda serta sedikit dengan Marja, bagian inilah yang membuat saya memiih judul resensi demikian. Dari sekian percakapan terkait nilai-nilai yang diangkat oleh buku ini, saya menggarisbawahi beberapa yang penting dan dekat dengan masa sekarang.

 Pertama, dialog yang terjadi ketika Yuda memberi label bahwa orang desa adalah bodoh dan tidak bisa dipercaya cerita takhayulnya. Jati kemudian memberi perspektif bahwa orang desa bukannya bodoh, mereka terjebak hiperealita yang mewujud dalam misalnya tayangan televisi. Televisi memuat informasi, orang desa tahu bahwa di tempat lain ada orang yang mereka anggap beruntung di acara reality show diwajibkan menghabiskan sepuluh juta dalam beberapa menit. Atau orang-orang maupun cara hidup yang dilabeli sukses, sementara kenyataan yang mereka alami jauh dari itu. Mereka tetap hanya memperoleh sedikit dari kerja keras yang harus dibelanjakan dengan penuh perhitungan. Contoh lain, televisi membuat orang desa tahu bahwa harga marmer di kota misalnya satu juta per meter. Namun hal tersebut tak mengubah kenyataan bahwa di desa marmer yang sama yang mereka tambang lalu mereka jual, nominal yag mereka terima tak sampai sepuluh ribu. Pendidikan? Institusi yang ditaruh harap dapat mengentaskan mereka dari hal-hal menyakitkan seperti demikian, pada praktiknya juga tidak jauh dari yang sudah disebutkan, mahal dan tak terjangkau. Lantas, demi privilege kita mengenyam pendidikan hingga tingkat yang memungkinkan kita dapat membaca hiperealitas tersebut, menyebut masyarakat desa sebagai bodoh lagi degil adalah bentuk kesombongan, tidak politically correct. Dengan mempertahankan perspektif tersebut, kita tidak bisa menemukan metode yang strategis untuk mengatasi permasalahan. Karena kita lupa memberi jarak, hanya melihat yang tampak. Mereka bodoh memang tidak bisa disangkal, tetapi menunda sikap sambil mengurai apa yang sesungguhnya terjadi selain yang tampak adalah yang diperlukan. Mengenai perkataan mereka yang tidak bisa dipercaya, sikapi sebagai data, sebagai informasi yang bisa diolah kembali dengan nilai-nilai dalam diri masing-masing individu. Bukankah memperlakukan dongeng, kisah, atau mitos dengan cara demikian membuat kita menemukan? Toh, kita bisa memilih untuk tidak dikuasai pengetahuan dengan menunda kebenaran. Memanggul tanpa terburu-buru menjatuhkan apa yang kita ketahui. Mencatatnya dan melengkapinya dari waktu ke waktu, tidak terburu-buru menyatakan bahwa sesuatu sudah final. Sekali lagi, tanggalkan kacamata modernis untuk menilai segala sesuatu hanya dari yang tampak, hanya dari asas manfaat.

Kedua, Sandi Yuda adalah penyuka taruhan yang sulit terkalahkan di antara gerombolannya. Suatu hari Yuda kalah taruhan dengan Parangjati, yang mengharuskan Yuda berpindah agama dari pemanjatan artificial yang biasa ia lakukan menjadi pemanjatan bersih (sacred climbing) yang tidak menyakiti alam dengan alat-alat yang merusak. Hanya menyisakan alat-alat yang tidak melukai tebing, cara-cara yang berdialog dengan alam. Gerombolan Yuda adalah dua belas laki-laki yang telah menakhlukkan tebing-tebing di Pulau Jawa dan membuka jalur pemanjatan. Menjauh dari hiruk pikuk kota dan mencari kemenangan-kemenangannya sendiri. Di kalangan pemanjat, kelompok pembuka jalur tentu memiliki kehormatannya sendiri, itu yang dimiliki keompok Yuda, terutama lagi yang dimiliki Yuda sebagai pemanjat terbaik dalam kelompoknya. Berpindah agama akibat kalah taruhan dengan Jati berarti kehilangan teman dan sebentuk kehormatan yang selama ini sudah dipegang. Dalam kekacauan yang dibuat sendiri oleh Yuda, Jati kembali memberi perspektif lain, bahwa menjadi lembut terhadap alam dan melucuti label penakhluk yang sudah tersemat tidak akan mengurangi kehormatan dan kejantanan seseorang. Kembali lagi ke modernisme, apa yang kemudian telah hadir menjadi resikonya perlu dilihat dengan mengambil jarak supaya tidak hanya dilihat dari kacamata modernis, yakni asas manfaat. Kacamata modernis mengutamaan manfaat, apa yang tampak bermanfaat, sederhananya apa yang menguntungkan, itu pula yang dipertahankan. Masalahnya, menguntungkan untuk siapa? Masih banyak masyarakat bawah yang tidak menjangkau apa yang disajikan ulang terus-menerus di televisi dan mampu melihat dengan kritis setiap sajiannya akibatnya pendapat mereka seringkali tidak koheren, bahwa banyak cara-cara manusia memperlakukan alam  dengan penuh kuasa yang berarti resiko, bermanfaat bagi manusia sekarang belum tentu bermanfaat pula bagi generasi selanjutnya. Setiap peradaban ‘menelan’ korban, menjadi penting untuk manusia belajar dari segala yang telah terjadi sehingga ke depannya dapat mencipta peradaban yang semakin mulia.

Komentar